
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Jawa Timur, Soekarwo, berada di balik berakhirnya konflik di tubuh dewan pimpinan cabang partai tersebut di Jember. Ibarat pertandingan sepakbola, Pakde Karwo adalah ‘Man of The Match’.
Besarnya peran Soekarwo sebagai mediator konflik terlihat dari pernyataan Baidhowi, perwakilan 18 pengurus anak cabang yang diberi kesempatan berbicara, dalam deklarasi perdamaian di kantor DPC Partai Demokrat Jember, Senin (23/1/2012).
“Kami dengan penuh kesadaran menerima hasil Musyawarah Cabang II. Kami berterima kasih kepada Pakde Karwo yang memediasi kami dengan Pak Saptono yUsuf (kandidat ketua Partai Demokrat Jember terpilih). Di situ, pikiran kami menjadi jernih,” kata Baidhowi.
Saptono membenarkan adanya pertemuan antara dirinya dengan 18 PAC, di kantor DPD Partai Demokrat Jatim, 16 Januari lalu. Di situlah terjadi kesepakatan antara pihak yang berkonflik.
Namun, Dwi Cahyono dari Koordinator Daerah Pemilihan Jember-Lumajang DPD Partai Demokrat Jatim, mengatakan, pihaknya hanya memediasi. “Kesepakatan islah murni dilakukan Pak Saptono dengan bapak-bapak dari PAC yang berbeda pendapat,” katanya.
Konflik di tubuh Demokrat meletup pada Musyawarah Cabang II, Rabu, 30 November 2011. Sebanyak 18 pengurus anak cabang atau separuh lebih dari jumlah pengurus anak cabang yang memiliki hak suara menolak untuk bermufakat memilih satu calon ketua saja: Saptono Yusuf.
Para pengurus anak cabang ini justru menilai, ada upaya manipulatif yang membuat hanya satu kandidat ketua yang muncul di arena pemilihan. Waseso, anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Jember yang menjadi representasi kubu perubahan, terganjal sehingga tak bisa mencalonkan diri.
Muscab di Hotel Panorama Jember menemui jalan buntu. Dua pekan kemudian, medio Desember 2011, muscab dilanjutkan di kantor Partai Demokrat Jawa Timur. Saptono terpilih. Namun ia bukannya tanpa catatan: pemilik hak suara sah dari 18 pengurus anak cabang tak bisa masuk ke arena muscab. Saptono terpilih tanpa suara kuorum di forum.
Para pengurus anak cabang memilih melawan. Mereka menggelar muscab sendiri, dan menetapkan Waseso sebagai ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Jember. Partai berlambang berlian biru itu pun terbelah. Selanjutnya, para pendukung Waseso menyegel dan menduduki kantor DPC. Mereka menuntut agar Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Daerah turun tangan menyelesaikan konflik di Jember.

